Tentang Saya
Biodata
-
Nama Lengkap : Dinda Mey Sahara
-
Tempat Lahir : Ladang Laweh
-
Tanggal Lahir : 20 Mei 2006
-
Jenis Kelamin : Perempuan
-
Moto Hidup : Kalau bisa Besok Kenapa Harus Sekarang
Riwayat Pendidikan
-
TK : Tunas Harapan
-
SD : SDN 11 Kapalo Koto
-
MTS : Diniyah Limo Jurai
-
MAS : Diniyah Limo Jurai
Abstrak
Karya ilmiah ini disusun oleh Dinda Mey Sahara, NID/NISN 131213060017230516/0069364173, judul: Penafsiran Surah Ali ‘Imran Ayat 195, MAS Diniyah Limo Jurai, Sungai Pua, 2025, 53 hlm.
Masalah yang dibahas dalam karya ilmiah ini adalah Qawaid tafsir, Qawaid lughawiyah, Fawaid surah Ali ‘Imran ayat 195. Batasan masalah dalam karya ilmiah ini fokus pada pembahasan Surah Ali ‘Imran Ayat 195. Adapun tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui penafsiran para mufassirin tentang surah Ali ‘Imran ayat 195.
Jenis penelitian yang digunakan kepustakaan (library research), yaitu jenis penelitian dengan mencari dan membaca buku-buku (literatur) berkaitan dengan permasalahan yang dibahas dalam landasan teori. Penelitian ini menggunakan metode tahlili. Langkah-langkah yang dilakukan dalaam penelitian ini, yaitu dengan mengumpulkan tafsir-tafsir yang berkaitan dengan masalah pembahasan, dan penulisan makalah ini dengan cara menelaah beberapa kitab tafsir yang berhubungan dengan pembahasan, di antaranya:Tafsir Al-Maraghi, Tafsir An-Nur, Tafsir Al-Munir, Tafsir Al-Azhar, Tafsir Al-Misbah, Tafsir Hidayatul Insan, Tafsir Qurthubi, Tafsir Ibnu Katsir, dan Tafsir Fathul Qadir,Aisarut Tafasir,Jilid 1, Al-Bahisul quran, Al-Baqa’i, Al-Bahisul quran, Tafsir al-mashur Al-Bahisul quran,Tafsir Ar-Razi, Al-Bahisul quran, Tafsir Muyassar, Safwa At-Tafasir,Tafsir Al-Munir.
Hasil pembahasan dalam karya ilmiah ini, yaitu Surah Ali ‘Imran merupakan salah satu surah Madaniah yang mengandung banyak pelajaran akidah, sejarah, dan pedoman kehidupan bagi umat Islam. Penamaannya merujuk pada kisah keluarga Imran, yaitu keluarga mulia yang melahirkan figur-figur teladan seperti Maryam dan Nabi Isa. Kisah tersebut memberikan gambaran tentang keteguhan iman, kesalehan, dan pengabdian kepada Allah, sehingga menjadikan surah ini memiliki kedudukan penting dalam penguatan spiritualitas. Selain itu, Surah Ali'Imran termasuk dalam kelompok Az-Zahrawān yang disebutkan memberi syafaat bagi orang-orang yang membacanya pada hari kiamat. Ali ‘Imran ayat 195 secara khusus menegaskan bahwa Allah memberikan penghargaan yang setara kepada laki-laki dan perempuan dalam setiap bentuk amal dan perjuangan di jalan-Nya. Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan pahala berdasarkan jenis kelamin, melainkan seluruh amal kebaikan dibalas dengan keadilan yang sempurna. Penggunaan struktur kebahasaan dalam ayat tersebut turut menguatkan makna kesetaraan dan kebersamaan dalam meraih pahala, sekaligus menekankan bahwa setiap pengorbanan, kesabaran, dan keteguhan akan mendapatkan balasan surga beserta ampunan dari Allah. Secara keseluruhan, Surah Ali-Imran dan ayat 195 memberikan kontribusi penting bagi penguatan nilai-nilai keimanan, etika kesetaraan gender, bagi umat Islam untuk terus beramal dengan ikhlas dan teguh dalam menghadapi ujian kehidupan
Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an adalah kitab suci yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melalui malaikat Jibril dengan tujuan sebagai panduan dan bimbingan bagi manusia, baik panduan di dunia maupun di akhirat. Panduan abadi yang selalu relevan setiap zaman dan keadaan, mengurai dan solusi setiap permasalahan yang dihadapai manusia sepanjang zaman.
Agama hadir sebagai alat untuk mengatur tatanan hidup manusia yang berasal dari Tuhan. Hal tersebut mampu membimbing manusia menjadi seseorang yang berakal dan berusaha mencari kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Agama yang mengatur dengan jelas dan memberi gambaran pasti bagi pemeluknya adalah agama Islam
Umat Islam zaman sekarang telah sangat jauh dari ajaran agama, baik dari Al-Qur’an maupun sunah. Manusia hanya fokus untuk mengejar dunia sehingga lalai dalam urusan ibadah. Misalnya, seseorang sedang melakukan sesuatu yang disukai, ketika waktu salat datang seringkali manusia menunda atau bahkan meninggalkan salat dan lebih memilih untuk melanjutkan kegiatan itu, manusia lebih memilih untuk melalaikan salat dari pada meninggalkan pekerjaan.
Al-Qur’an merupakan pedoman hidup untuk umat Islam. Agar bisa menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, maka manusia harus bisa memahami isi Al-Qur’an. Memahami isi Al-Qur’an bisa dari terjemahan AlQur’an, namun bila memahami Al-Qur’an dari terjemahan saja tidak cukup. Manusia juga harus memahami tafsir, karena dengan membaca tafsir maka manusia akan dapat lebih memahami ayat perayat pada Al-Qur’an.
Seorang muslim harus mempelajari agama, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, untuk memahami makna ayat, agar mengetahui hukum yang ada dalam ayat serta menghindari kesalahpahaman tentang ayat tersebut. Para mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran membutuhkan kaidah-kaidah tertentu di antaranya:qawaid tafsir, qawaid lughawiyah, dan fawaid ayat termasuk juga penuntut ilmu syari’ yang sangat bergantung kepada penafsiran ayat-ayat Al-Quran.
Banyak hal terjadi dalam kehidupan manusia yang melenceng dari ajaran, Sehingga diturunkan Al-Qur’an untuk mengatur tata kehidupan manusia dalam perspektif Al-Quran. Al-Quran diturunkan sebagai tata kehidupan manusia yang sebelumnya yang banyak melenceng dari hal-hal baik. Salah satunya dalam melakukan suatu amalan, yang mana ketika seseorang melakukan suatu amalan dia akan bertanya apa balasan yang akan dia dapatkan setelah melakukannya. Padahal Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan perbuatan umat-nya yang beriman. Allah menjelaskan di dalam Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa Allah tidak3 akan membeda-bedakan amalan laki-laki dan perempuan. Apakah kehidupan manusia sudah melenceng dari Al- Qur’an?
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk membahas lebih rinci tentang permasalahan amalan manusia, jawaban Allah terhadap doa hambanya yang terusir dari kampungnya dan berhijrah di jalan Allah dengan melakukan pengorbanan, maka Allah akan membalasnya dengan surga yang di dalamnya penuh dengan kenikmatan. Maka penulis mengangkat permasalahan ini dengan judul “Penafsiran Surah Ali ‘Imran Ayat 195”.
Rumusan Masalah