Tentang Saya
Biodata
-
Nama Lengkap: Ahmad Habibi
-
Tempat Lahir: Batam
-
Tanggal Lahir: 12 Januari 2007
-
Jenis Kelamin: Laki-Laki
-
Motto Hidup: jangan terlalu di apakali apanya itu
Riwayat Pendidikan
-
TK: TKIT Ulil Al-Bab
-
SD: SDIT Ulil Al-Bab
-
SMP: Insan Cendikia Boarding school
-
SMA: Diniyah Limo Jurai
-
Tanggal Lahir: 12 Januari 2007
-
Jenis Kelamin: Laki-Laki
Abstrak
Karya ilmiah ini disusun oleh Ahmad Habibi, NID/NISN 1312130600172305060078609303. Karya ilmiah ini berjudul Penafsiran Surah Ali Imran Ayat 96-97, di MAS Diniyah Limo Jurai, Sungaipua 2025, berisi 46 halaman.
Masalah yang dibahas dalam karya ilmiah ini adalah bagaimana penjelasan Surah Ali-’Imran Ayat 96-97 menurut ahli tafsir. Batasan masalah dalam karya ilmiah ini adalah qawaid tafsir, qawaid lughawiyah, dan fawaid dari surah Ali-‘Imran Ayat 96-97. Adapun tujuan penulisan makalah ini untuk mengetahui penjelasan surah Ali-’Imran Ayat 96-97 menurut ahli tafsir.
Dalam proses penulisan, penulis menggunakan jenis studi kepustakaan (library research), dengan mencari dan membaca buku-buku (literatur) yang berkaitan dengan permasalahan untuk meletakkan landasan teori. Penulisan ini menggunakan metode tahlili. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penulisan ini yaitu, dengan mengumpulkan tafsir-tafsir yang berkaitan dengan masalah pembahasan, dan penulisan makalah ini dengan cara menelaah beberapa kitab tafsir yang berhubungan dengan pembahasan, diantaranya: Tafsir al- Munir,Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir Mafatihul Ghaib, Tafsir al-Maraghi, Tafsir Al- Azhar, Tafsir Al-Kasyaf, Tafsir al-Misbah, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Fathul Qadir, Tafsir Muharrar Al-Wajiz, Tafsir At-Thabari
Hasil pembahasan yang dikemukakan dalam ayat ini yang pertama, ayat ini menjelaskan tentang bagaimana sejarah pembangunan Ka’bah, kemudian apa saja nama lain dari Ka’bah. Pada ayat ini juga membahas siapa saja orang-orang yang wajib menunaikan ibadah haji dan hukuman yang didapat apabila tidak melaksanakannya. Dalam ayat ini kita dapat mengetahui bahwa Allah itu maha kaya dan tidak membutuhkan kita, akan tetapi kitalah yang membutuhkannya.
Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an merupakan kitab suci umat muslim yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yang mana jika kita mendengarkan seseorang membacakan ayat Al-Qur’an, dapat dibenarkan bahwa si pembaca sedang membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an juga sebagai kitab suci yang terakhir diturunkan, yang mana isinya mencakup segala pokok-pokok syariat yang terdapat dalam kitab-kitab sebelumnya. Dalam Al-Qur’an juga terdapat pembahasan tentang rukun Islam yang harus dilaksanakan umat muslim seperti rukun Islam ke-5 yaitu haji bagi yang mampu.
Haji merupakan kewajiban seorang muslim yang di lakukan di Makkah. Kata haji berarti qashd, yakni tujuan, maksud dan menyengaja. Menurut istilah syara', haji adalah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu. Dalam Islam, haji juga terbagi menjadi tiga jenis yaitu ifrad, tamattu, dan qiran.
Haji merupakan ibadah yang dilaksanakan di sekitar Ka’bah. Ka’bah merupakan kiblat umat muslim. Nama lain dari Ka’bah sendiri adalah Baitullah, yang berarti rumah Allah. Baitullah merupakan rumah ibadah pertama yang ada di dunia jauh sebelum Adam diturunkan. Sebagaimana yang telah dicantumkan dalam ayat Al-Qur’an pada Surah Ali-‘Imran ayat 96 yang berbunyi:
Artinya : Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia adalah (Baitullah) yang (berada) di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam
Adapun pola-pola pelaksanaan haji yang dibolehkan adalah pola yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam Al-Qur’an juga terdapat beberapa ayat yang menyinggung tentang haji, salah satunya dalam surah Ali-‘Imran ayat 97 sebagai tanda atas kewajiban melakukan haji bagi yang mampu yang berbunyi:
Artinya: Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim. Siapa yang memasukinya (Baitullah), maka amanlah dia. (Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, penulis tertarik untuk mengurai permasalahan tersebut lebih mendalam dengan mengetahui penafsiran dari ayat tersebut, maka diangkatlah permasalahan ini dalam bentuk karya tulis dengan judul “Penafsiran Surah Ali-‘Imran Ayat 96-97”.
Rumusan Masalah