Tentang Saya

BIODATA
-
Nama Lengkap: Laila Najwa Alfarizi
-
Tempat Lahir: Bukittinggi
-
Tanggal Lahir: 30 November 2006
-
Jenis Kelamin: Perempuan
-
Motto Hidup: Sukses Dunia Akhirat
RIWAYAT PENDIDIKAN
-
TK: TK Islam Ibnu Syam
-
SD: SDN 07 Kubang Putiah
-
MTs: MTsS Diniyah Limo Jurai
-
MA: MAS Diniyah Limo Jurai
Abstrak
Laila Najwa Alfarizi, NID/NISN:1376027011060001/0066022196, judul:“PENAFSIRAN SURAH ALI ‘IMRAN AYAT 161—164”, di MAS Diniyah Limo Jurai, Sungaipua, berisi 71 hal.
Masalah yang penulis bahas dalam karya tulis ini adalah bagaimana kaidah tafsir, kaidah bahasa, dan faedah ayat surah Ali ‘Imran ayat 161—164. Batasan masalah karya ilmiah ini adalah penafsiran surah Ali ‘Imran ayat 161—164 berdasarkan pandangan ahli tafsir. Adapun tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui bagaimana kaidah tafsir, kaidah bahasa, dan faedah ayat surah Ali ‘Imran ayat161—164.
Proses penulisan karya ilmiah ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research). Jenis penelitian kepustakaan dengan mencari dan membaca buku-buku (literatur) yang berkaitan dengan permasalahan untuk dibahas dalam landasan teori.Penelitian ini menggunakan metode tahlili. Langkah-langkah yang digunakan penelitian ini,yaitu dengan cara menelaah beberapa kitab tafsir yang berhubungan dengan pembahasan, diantaranya: Tafsir Al-Misbah, Tafsir Al-Munir,Shafwah At-Tafasir, Tafsir Al-Baghawi, Tafsir Al-Razi, Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir Al-Lusi, Tafsir Al-Kasysyaf, Tafsir Fatul Qadir, Tafsir IbnuKatsir,dan beberapa kitab tafsir lainnya. Selain kitab-kitab tafsir, penulis juga mengambilreferensidarijurnal dan buku yang berkaitandenganmasalah yang terdapatdalamayattersebut.
Hasil pembahasan yang dikemukakan dalam karya ilmiah ini, yaitu: Surah Ali ‘Imran ayat 161—164 memiliki kaidah tafsir yang menonjol yaitu qasas Al-Qur’an. Surah ini juga memiliki kaidah bahasa menonjol yaitu balagah. Penafsiran para mufasirpada surah Ali ‘Imran ayat 161—164 terdapat beberapa kandungan. Pada ayat 161, Allah SWT menegaskan bahwa seorang nabi, khususnya Rasulullah SAW, mustahil berkhianat terhadap amanah yang diberikan kepadanya. Ayat ini turun untuk membela Rasulullah dari tuduhan sebagian kaum munafik yang mencurigai beliau menyembunyikan harta rampasan perang. Ayat 162—163 memberikan perbandingan moral dan spiritual antara golongan yang diridai Allah SWT dan golongan yang mendapatkan murka-Nya. Tafsir Al-Qurtubi menjelaskan bahwa tidaks emua yang tampakbersama Nabi SAW memilikikedudukan yang sama di sisi Allah; hanyamereka yang taat, jujur, dan ikhlas yang layakmendapatkanrida-Nya. Puncakdarirangkaianayatiniterdapat pada ayat 164, yang menegaskankemuliaan dan keagunganrisalah Nabi Muhammad SAW sebagainikmatterbesar yang Allah SWT berikankepadaumat Islam.
Pendahuluan
Latar Belakang Masalah
Manusia pada hakikatnyamerupakan salah satumakhlukciptaan Allah SWT. Menurutsumberutamaajaran Islam, yaitu Al-Qur’an, Allah SWTmenciptakanmanusiabesertatugas-tugasmulia yang harusdiembannya. Islam menjelaskanbahwamanusiadiciptakandaritanah, kemudianmelaluitahapannutfah (setetes air mani),‘alaqah(segumpaldarah), dan mudghah(segumpaldaging)hinggaakhirnyamenjadimakhluk Allah SWT yang paling sempurna. Dalam Al-Qur’an ditegaskanbahwa Allah SWT menciptakanmanusiadalambentuk yang paling baik (ahsanitaqwim) sertamenundukkanalamsemestabesertaisinya agar dapatdimanfaatkanmanusiauntukmemelihara dan melestarikankehidupan di dunia
Al-Qur’an sebagaikalamullahmengaturseluruhaspekkehidupan di dunia, termasuk tata carahidup dan perilakumanusia. Hal inimenunjukkanbahwa Allah SWT menghendakimanusia agar senantiasahidupdenganberpegang pada nilai-nilaimoralitas. Keadaanmanusia yang telah Allah SWT ciptakandalambentuk yang paling baik (ahsanitaqwim) menjadikanmerekamampumelaksanakantugas-tugasmulia yang diamanahkan, sertaberperansebagai khalifah di mukabumiuntukmengelola dan memeliharaalamdengansebaik-baiknya
Al-Qur’an juga menggambarkan berbagai sifat yang menunjukkan kelemahan manusia. Salah satunya adalah kecenderungan manusia untuk lalai, sehingga sering dicela oleh Al-Qur’an. Celaan tersebut muncul karena banyak manusia tidak menyadari hakikat kemanusiaannya dan enggan memahami tujuan hidup jangka panjangs ebagai makhluk yang telah diberi amanah. Ketidak mampuan manusia dalam memikul amanah dari Allah SWT dapat menjadikannya lebih rendah dibandingkan setan dan binatang buas, meskipun pada hakikatnya derajat manusia ditempatkan align="justify">lebihtinggi
Pada zaman sekarang, menyia-nyiakanamanahtelahmenjadipemandangan yang dianggaplumrah oleh sebagian orang, padahal hal tersebut membawa akibat dan dampak yang sangat besar. Sumberutamakehancuran dan kerusakan di tengahmasyarakatsering kali disebabkan oleh sifatkhianat dan tidakditunaikannyaamanahkepadapihak yang berhak. Terkaithalini, Rasulullah SAW bersabda:Artinya: “Dari Abu Hurairah berkata, Ketika Nabi SAW berada dalam suatu majelis membicarakan suatu kaum, tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui lalu bertanya, “Kapan datangnya hari kiamat?” Namun Nabi SAW tetap melanjutkan pembicaraannya. Sementara itu sebagian kaum ada yang berkata, “Beliau mendengar perkataannya akan tetapi beliau tidak menyukai apa yang dikatakannya itu”, dan ada pula sebagian yang mengatakan,“Bahwa beliau tidak mendengar perkataannya”. Hingga akhirnya Nabi SAW menyelesaikan pembicaraannya, seraya berkata, “Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat tadi?” Orang itu berkata, “Saya wahai Rasulullah!”. Maka Nabi SAW bersabda, “Apabila sudah hilang amanah maka tunggulah terjadinya kiamat”. Orang itu bertanya, “Bagaimana hilangnya amanat itu?” Nabi SAWmenjawab, “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, makatunggulah terjadinya kiamat”.H.R Bukhari
Al-Qur’an telah menegaskan dasar-dasar penting dalam pembentukan dan pembinaan akhlak, di mana pendidikan menjadi sarana utamanya, baik melalui lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dalaminteraksisosialkhususnya, terciptanyalingkungan yang harmonishanyadapatdiwujudkanapabilaterjalinkepercayaan di antarasesamaanggotamasyarakat. Salah satucontohteladan yang menjadi modal utama Nabi Muhammad SAWsebelumbeliaudiangkatmenjadirasuladalahgelarAl-Amin(orang yang terpercaya) yang disematkanmasyarakatkepadanya. Gelartersebutmenunjukkanbetapatinggikepercayaanmasyarakatkepadabeliaukarenasifatamanah yang dimilikinya.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka dapat dirumuskan beberapa pokok permasalahan dalam pembahasan ini, yaitu
- Bagaimana kaidah tafsir surah Ali ‘Imran ayat 161—164?
- Bagaimana kaidah bahasa surah Ali ‘Imran ayat 161—164?
- Bagaimana faedah ayat surah Ali ‘Imran ayat 161—164?