Tentang Saya

BIODATA

  • Nama Lengkap: Nabila Tulkhaira
  • Tempat Lahira: Limo Suku
  • Tanggal Lahir: 01 Agustus 2006
  • Jenis Kelamin: Perempuan
  • Moto Hidup: Masuk Surga

RIWAYAT PENDIDIKAN

  • TK: TK Islam Ibnu Syam
  • SD: SDN 12 Limo Suku
  • MTs: MTsS Diniyah Limo Jurai
  • MA: MAS Diniyah Limo Jurai

Abstrak

Karya Ilmiah ini disusun oleh Nabila Tulkhaira, NID/NISN 131213060017230540/0067440712, karya ilmiah ini berjudul Penafsiran Surah Ali ‘Imranayat 169—171, MAS Diniyah Limo Jurai, Sungai Pua, 2025, berisi 45 hal.

Masalah yang penulis bahas dalam karya tulis ini adalah bagaimana qawa'id tafsir, qawa'id lughawiyah, dan fawaid ayat surah Ali ‘Imranayat 169—171. Batasan masalah karya ilmiah ini adalah penafsiran surah Ali ‘Imran ayat 169—171 berdasarkan pandangan ahli tafsir. Adapun tujuan penulisan karya ilmiahini adalah untuk mengetahui qawa'id tafsir,qawa'id lughawiyah,danfawaid ayat surah Ali ‘Imranayat169—171.

Dalam prosespenelitian,penulismenggunakan jenis penelitian kepustakaan (libraryresearch).Jenis penelitian kepustakaan dengan mencari dan membaca buku-buku (literatur)yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas dalam landasan teori.Penelitian ini menggunakan metode tahlili. Langkah-langkah yang digunakan penelitian iniyaitu,dengan cara menelaah beberapa kitab tafsir yang berkaitan dengan masalah pembahasan,diantaranya:TafsirAl-Maraghi, Tafsir Al-Manar,Ibnu Katsir,At-Thabari, TafsirAl-Azhar,Tafsir ats-Tsari, Shafwah At-Tafsir, Tafsir Muyassar, Tafsir Al-Munir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azim. Selainkitab-kitab tafsir,penulisjuga mengambil referensidarijurnaldan buku yang berkaita ndengan masalah yang terdapat dalam ayattersebut.

Hasilpembahasan yang dikemukakan dalam karya ilmiahini yaitu: Penafsiran Surah Ali ‘Imran Ayat 169—171 yang membahas tentang hakikat kematian para syuhada bahwa para syuhada tidaklah mati, tetapi hidup dalam kemuliaan di sisi Allah SWT serta memperoleh rezeki dan nikmat yang agung. Mereka berada dalam kebahagiaan karena karunia Allah SWT dan memberikan kabar gembira bagi kaum mukmin yang istiqamah berjihad bahwa tidak ada rasa takut maupun kesedihan bagi mereka. Ayat-ayat ini sekaligus menegaskan bahwa Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan amal orang beriman, sehingga menjadi penghiburan spiritual dan dorongan bagi kaum mukmin untuk tetap teguh dalam perjuangan di jalan Allah SWT.

Pendahuluan

Latar Belakang Masalah

Bagian ini mengemukakan apa yang akan di bahas dari ayat yang sudah ditentukan untuk diambil faedahnya, dan bukan untuk mencari masalah yang harus dikaitkan dengan ayat.

Rumusan Masalah

Bagian ini menjelaskan pada ayat yang akan dilakukan penelitian. Rumusan masalah dirumuskan berdasarkan kepada ayat yang sudah ditentukan saja.

Tujuan Penelitian

Bagian ini memuat penjelasan tentang sasaran yang lebih spesifik dan hal yang menjadi tujuan penelitian.

Latar Belakang Masalah

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang diperintahkan untuk beribadah kepada-Nya. Dalam beribadah, manusia membutuhkan petunjuk hidup yang benar agar tidak tersesat dalam beramal. Manusia memerlukan panduan yang jelas dalam menjalankan setiap amal perbuatannya di dunia, yang salah satunya bersumber dari Al-Qur'an.

Al-Qur’an merupakan sumber hukum utama umat Islamyang dijadikan sebagai pedoman dalam menata dan melaksanakan kehidupan dunia dan akhirat. Agar dapat memahami isi kandungan Al-Qur'an secara komprehensif, kitatidak bisa memahaminya secara dzahir (tekstual) saja. Dengan kekayaan bahasa Al-Qur'an dan maknanya yang mendalam, maka kita butuh kepada tafsir. Selain itu penting melakukan pentadabburan (perenungan) ayat-ayat Al-Qur’an, agar makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami secara lebihtepat. Hal ini memerlukan rujukan kepada pemahaman para mufasir, melalui tulisan-tulisan yang mereka hasilkan dalam kitab-kitab tafsir, yang menjelaskan isi kandungan, hikmah, dan tafsiran yang tepat terhadap wahyu Allah SWT tersebut.

Pada prinsipnya Al-Qur’an tidak hanya membahas tentang tata cara beribadah kepada Allah SWTtetapi juga memberikan panduan yang menyeluruh tentang berbagai aspek dan nilai-nilai kehidupan, termasuk konsep kematian, kehidupan setelah mati, dan ganjaran atas setiap amal manusia semasa hidupnya di dunia.

Sebagai seorang muslim seharusnya kita mengambil pelajaran dari hikmah-hikmah yang ada di dalam Al-Qur’an, agar dapat mempersiapkan amalan untuk kehidupan setelah kamatian.Sebagaiman firman Allah SWTdalam Surah Al- Mu’minun Ayat 15—¬¬16 َ ثُمَّ اِنَّكُمۡ بَعۡدَ ذٰلِكَ لَمَيِّتُوۡن ثُمَّ اِنَّكُمۡ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ تُبۡعَثُوۡنَ Artinya:Kemudian, setelah itu kamu pasti mati. Kemudian kamu akan di bangkitkan (dari kubur) pada hari kiamat.

Ayat ini mengingatkanbahwa kematian adalah suatu kepastian bagi setiap makhluk. Begitu juga manusia akan menghadapi kematian dan akan dihidupkan kembali di akhirat kelak untuk menerima ganjaran atas amalan yang dilakukan selama di dunia.

Salah satu kematian yang didambakan dan dicita-citakan oleh umat Islamdalam keaadaan husnul khatimah adalah mati syahid atau dikenal sebagaisyuhada.Dalam Al-Quran para Syuhada diberi kenikmatan bersama para nabi, para pecinta kebenaran, dan orang-orang sholeh. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah an-nisa ayat 69 : وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۦنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا Artinya: Siapa yang menaati Allah SWT dan Rasul (Nabi Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (akan dikumpulkan) bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah SWT, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Ayat diatas menjelaskan bahwa orang-orang yang mati syahid, akan berada di tempat yang paling mulia di akhirat yaitu bersama para nabi, shiddiqin, dan orang-orang sholeh lainnya. Ini menunjukkan bahwa perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan di jalan Allah SWT, seperti yang dilakukan oleh para syuhada, memiliki pahala dan kedudukan yang sangat tinggi.

Dalam sejarah Islam, salah satu kisah yang palingmasyhur tentang syuhada adalah kisah Hamzah bin Abdul Muthalib, sosok sahabat,paman, sekaligus saudara sepersusuan Nabi Muhammad. Hamzah gugur sebagai syahid dalam Perang Uhud.Setelah meninggal, jenazah Hamzah ditemukan dalam keadaan yang sangat memilukan.Meskipun demikian, Nabi Muhammad sangat mencintainya dan memuji pengorbanannya.Hamzah disebut sebagai Sayyid Syuhada' (Pemimpin Para Syuhada), yang berarti orang yang paling mulia di kalangan para syuhada

Tinggi dan mulianya kedudukan para syuhada di sisi Allah SWT juga ditegaskan dalam Surat Ali ‘Imran ayat 169—171.Ayat-ayat ini hadir sebagai bentuk penghiburan ilahidengan meluruskan pemahaman tentang kematian para syuhda. Allah SWT menegaskan bahawa mereka yang gugur di jalan Allah SWT tidaklah mati, melainkan hidup di sisi Allah SWT dan memperleh rezki, kebahagiaan, serta kemulaan. Penegasan ini bertujuan untuk menguatkn keimanan kaum mukmin, dan memeberi ketenangan spritual bagi keluarga dan masyarakat yang ditinggalkan, sekaligus menenamkan keyakinan bahwa pengorbanan para syuhda tidak sia-sia karena Allah SWT tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman

Jika hanya melihat makna Surat Ali ‘Imran ayat 169—171 tersebut secara dzahir, kita tidak bisa memahami dengan jelas karunia seperti apa yang Allah SWT berikan dan kehidupan seperti apa yang para syuhada rasakan setelah kematiannya di dunia.Perlu kajian yang lebih mendalam untuk memahami makna ayat tersebut agar tidak salah penafsiran.Atas dasar itu, penulis tertarik untuk membahas tafsir Surat Ali ‘Imran ayat 169—171, karena datang sebagai penghibur bagi keluarga dan masyarakat yang ditinggalkan oleh syuhada.Ayat ini lebih tegas menjelaskan tentang kedudukan orang-orang yang mati syahid di sisi Allah SWT.Selain itu, ayat ini juga mengajarkan tentang pentingnya keberanian dan pengorbanan di jalan Allah SWT yang sangat bermanfaat dijadikan sebagai pelajaran dan diambil hikmahnya oleh umat Islam dalam menjalani kehidupan.Maka dari itu penulis mengangkat karya ilmiah ini dengan judul “Penafsiran SurahAli ‘Imran Ayat 169—171”.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, dapat dirumuskan hal-hal yang menjadi pokok permasalahan dalam pembahasan ini, yaitu:

  • Bagaimana qawa’id tafsir surah Ali ‘Imran ayat 169—171?
  • Bagaimana qawa’id lughawiyah surah Ali ‘Imran ayat 169—171?
  • Bagaimana fawaid ayat surah Ali ‘Imran ayat 169—171?

Tujuan Penelitian

1

. Mengetahui qawa’id tafsir surah Ali ‘Imranayat 169—171.

2

Mengetahui qawa’idlughawiyah surah Ali ‘Imran ayat 169—171.

3

Mengetahui fawaidayat surah Ali ‘Imran ayat 169—171